komponen-otomotif

Emiten Komponen Menanti Sengatan PPnBM

Stimulus Pajak Penjualan atas Barang Mewah ditanggung Pemerintah (PPnBM) mulai Maret 2021, menjadi sentimen positif bagi emiten pabrikan otomotif. Namun, sentimen tersebut belum tentu dialami emiten komponen kendaraan.

Adapun, pemerintah memberikan relaksasi PPnBM mulai 1 Maret sampai 31 Desember 2021 untuk kendaraan bermotor roda empat dengan kapasitas mesin sampai 1.500 cc. Pemerintah kemudian memperluas relaksasi tersebut sampai dengan kapasitas mesin 2.500 cc mulai 1 April.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan dari pabrik ke dealer atau wholesales roda empat pada Maret 2021 mencapai 84.910 unit, naik 72,6% dibandingkan dengan Februari.

Penjualan ritel mobil pada bulan lalu tercatat sebanyak 77.511 unit. Angka ini naik 65,1% jika disandingkan dengan kinerja penjualan Februari 2021, yang meraih 46.943 unit.

Tak hanya secara bulanan, relaksasi pajak yang digulirkan pemerintah juga berhasil mendorong penjualan mobil secara tahunan. Gaikindo mencatat, wholesales pada Maret 2021 tumbuh 10,5%, sedangkan penjualan ritel naik 28,2% secara tahunan (yoy).

Head Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetyo mengatakan sentimen diskon pajak atau PPnBM diharapkan dapat mendongkrak kinerja penjualan mobil baru tahun ini, dalam upaya pemulihan ekonomi pascapandemi Covid-19.

“Di satu sisi, ini adalah celah untuk emiten penjual mobil di Indonesia untuk meraih performa kinerjanya seperti pada tahun-tahun sebelum pandemi.

Namun, di sisi lain harus menerjang tantangan bahwa daya beli masyarakat belum pulih total,” kata Frankie kepada Bisnis, Senin (26/4).

Di sisi lain, lanjutnya, keputusan pemerintah untuk melarang mudik menjelang Lebaran 2021 berpeluang menahan laju penjualan mobil.

Dia pun melihat bahwa kinerja emiten komponen otomotif tak semuanya menggembirakan pascaberlakunya insentif pajak dari pemerintah. Hal itu membuktikan bahwa kinerja emiten otomotif tak serta merta mengerek kinerja perusahaan dan saham emiten komponen otomotif.

“Jadi sederhananya jika penjualan mobil baru meningkat belum tentu turut mendongkrak penjualan spare part mobil dalam waktu dekat, karena usia mobil yang masih baru,” jelasnya.

Dia mengatakan sektor komponen otomotif juga terpukul akibat mobilitas masyarakat yang belum signifikan. Apalagi, nantinya akan ada larangan mudik Lebaran yang dapat kembali menekan penjualan komponen otomotif.

“Untuk spare part ban mobil, cukup tertolong dari harga komoditas karet sebagai bahan baku utama turun. Jadi bisa menekan harga pokok produksi perusahaan,” katanya.

Menurutnya, emiten ban mobil seperti PT Indo Kordsa Tbk. (BRAM), PT Goodyear Indonesia Tbk. (GDYR), dan PT Gajah Tunggal Tbk. (GJTL) memiliki kinerja saham yang lebih baik daripada sektor komponen mobil lainnya yang cenderung turun.

Sekadar catatan, per Selasa (27/4), sepanjang tahun ini, harga saham GJTL berhasil naik 41,22%. Sementara itu, pada periode yang sama saham GDYR terapresiasi 3,52%, dan BRAM 4,00%.

Untuk itu, Frankie merekomendasikan saham GJTL. Telebih perusahaan yang sahamnya dikoleksi oleh Lo Kheng Hong tersebut memiliki kinerja paling baik pada 2020, jika disandingkan dengan emiten ban lainnya.

“Dari sisi rasio kunci yaitu PBV, yang cukup rendah yaitu 0,48x. Pada 2016, PBV-nya pernah menyentuh level 0,96x, tetapi turun ke level 0,6x sepanjang tahun 2017.

Jadi jika PBV-nya bisa kembali ke level 0,6x saja, maka target harga sahamnya di kisaran Rp1.100-Rp1.200,” paparnya.

Adapun, Gajah Tunggal berhasil mencatatkan pertumbuhan laba bersih sepanjang tahun lalu. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, laba bersih GJTL naik 19,05% menjadi Rp320,37 miliar. Pada tahun sebelumnya, laba bersih GJTL tercatat Rp 269,11 miliar.

Meskipun berhasil mengerek laba bersih, pendapatan perusahaan pada tahun lalu kurang moncer. Gajah Tunggal mengantongi pendapatan sebesar Rp 13,43 triliun atau menyusut 18,61% dari tahun sebelumnya.

Sementara itu, dia juga melihat, emiten komponen otomotif lain seperti PT Selamat Sempurna Tbk.(SMSM) relatif mampu bersaing lantaran produknya cukup beragam dengan harga yang ekonomis. Kinerja sahamnya secara year-to-date (ytd) pun terangkat 1,44%.

KLAIM PEMERINTAH

Sementara itu, pemerintah mengklaim industri komponen otomotif mulai menunjukkan tren positif meskipun belum signifikan pascakebijakan diskon pajak pembelian mobil.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan sebelum terjadi pandemi Covid-19, IKM komponen otomotif mencatat penjualan yang tinggi.

Setelah terjadi pandemi penjualan tinggal 20% dari kondisi sebelum pandemi. Adapun, tahun ini sampai Maret sebelum PPnBM penjualan sebesar 40%-50% dari level normal.

“Namun, setelah adanya regulasi PPnBM penjualan naik menjadi 70%-80% tetapi belum 100% sebelum ada pandemi,” katanya.

Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (Pikko) Wan Fauzi mengatakan utilisasi pabrikan komponen saat ini sudah berkisar di level 70%.

Adapun, pada awal tahun ini, utilisasi masih berada di kisaran 60%. Meskipun demikian, utilisasi tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya, yang di kisaran 50%.

“Sekarang sudah ada kenaikan meski belum 100%, utilisasi sudah sekitar 70%, baik untuk motor atau mobil,” katanya kepada Bisnis, Senin (19/4).

Sayangnya, Fauzi menyebut pelaku usaha komponen masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya harga material yang belum turun sejak awal tahun lalu.

Menurutnya, kenaikan tersebut hanya terjadi pada material dari dalam negeri, sedangkan material impor saat ini harganya sudah lebih stabil bahkan cenderung turun.

Fauzi pun meminta produsen baja lokal agar kembali mempertimbangkan penetapan harga jual mengingat kondisi sulit yang masih dihadapi industri penggunanya.

Sumber: Harian Bisnis Indonesia

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter