komponen-otomotif

Industri Komponen Tersulut Insentif Otomotif

JAKARTA — Industri komponen otomotif mulai merasakan dampak penjualan otomotif yang terus naik setelah pemerintah memberikan relaksasi pajak penjualan atas barang mewah atau PPnBM yang dimulai pada Maret 2021.

Dalam kebijakan tersebut, pemerintah memberikan relaksasi PPnBM mulai 1 Maret sampai 31 Desember 2021 untuk kendaraan bermotor roda empat dengan kapasitas mesin sampai 1.500 cc.

Pemerintah kemudian memperluas relaksasi tersebut sampai dengan kapasitas mesin 2.500 cc mulai 1 April.

Kementerian Perindustrian mencatat sampai Maret 2021, telah terjadi peningkatan purchase ordercukup signifi kan untuk kendaraan roda empat dengan kapasitas mesin sampai 1.500 cc, yaitu sebesar 190% dibandingkan dengan penjualan Februari 2021.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan sebelum terjadi pandemi Covid-19 industri kecil dan menengah (IKM) komponen otomotif mencatat penjualan yang tinggi.

“Setelah adanya regulasi PPnBM, penjualan naik menjadi 70%-80%, tetapi belum 100% sebelum ada pandemi,” katanya kepada Bisnis, Senin (19/4).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri otomotif merupakan salah satu sektor yang mampu berkontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.

Agus optimistis industri otomotif ini dapat memacu untuk upaya pemulihan ekonomi nasional. Sebab, industri otomotif banyak melibatkan pelaku usaha di dalam negeri dari sektor hulu sampai hilir.

Agus menyebutkan meskipun digempur pukulan pandemi Covid-19, industri otomotif mampu menyumbang ke PDB nonmigas sebesar 4,24% sepanjang 2020.

Sementara itu, ekspor produk otomotif untuk kendaraan bermotor roda empat atau lebih termasuk komponennya mencapai Rp65,99 tirliun.

Dari total nilai tersebut, sekitar Rp41,86 triliun merupakan ekspor kendaraan jenis completely built up (CBU) dari Indonesia ke lebih dari 80 negara.

Saat ini, tercatat ada 21 perusahaan industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih yang ada di Indonesia. Sementara itu, terdapat 22 pabrikan dengan didukung sebanyak 1.500 industri komponen (tier 1,2, dan 3) dan lebih dari 1,5 juta orang yang bekerja di sepanjang rantai nilai industri tersebut.

Membaiknya industri otomotif dan komponennya juga sudah mulai dirasakan pelaku usaha. Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Industri Kecil-Menengah Komponen Otomotif (Pikko) Wan Fauzi mengatakan utilisasi pabrikan komponen saat ini sudah berkisar di level 70%.

Adapun, pada awal tahun ini, utilisasi masih berada di kisaran 60%. Meskipun demikian, utilisasi tersebut masih lebih baik dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya di kisaran 50%.

“Sekarang memang sudah ada kenaikan meski belum 100 persen, utilisasi sudah sekitar 70 persen baik untuk motor atau mobil,” katanya kepada Bisnis, Senin (19/4).

Sayangnya, Fauzi menyebut pelaku usaha komponen masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya harga material yang belum turun sejak awal tahun lalu.

Menurut Fauzi kenaikan tersebut hanya terjadi pada material dari dalam negeri, sedangkan material impor saat ini harganya sudah lebih stabil bahkan cenderung turun.

Fauzi pun meminta produsen baja lokal agar kembali mempertimbangkan pemberian harga jual mengingat kondisi sulit yang masih dihadapi industri penggunanya.

“Sebenarnya kami juga belum tahu kenapa bisa material lokal masih mahal. Harapan kami bisa diturunkan,” ujar Fauzi.

Dengan kondisi di atas, Fauzi mengemukakan tak jarang untuk meminta pada pemesan agar melakukan pembelian material sendiri sehingga industri komponen tinggal merakit saja. Alasannya, sistem pesan selama 3 bulan membuat industri komponen tak bisa melakukan kenaikan harga secara tiba-tiba.

PENGAWASAN KETAT

Terkait pasokan bahan baku, dia juga meminta pemerintah melakukan pengawasan ekstra ketat karena akan merilis kebijak-an pemberian kemudahan impor bahan baku bagi industri skala kecil menengah atau IKM yang melakukan kegiatan produksi.

“Kebijakan ini akan bagus karena nanti tidak perlu izin-izin lagi, kebutuhan UKM yang sedikit juga akan dilakukan dengan koordinator.

Namun, yang perlu ditegaskan di sini pengawasannya, jangan sampai ada terselip barang-barang jadi yang akan merugikan industri,” katanya.

Fauzi pun berharap dengan kebijakan tersebut, nantinya industri dalam negeri menjadi lebih berdaya saing, khususnya dalam penyediaan bahan baku.

Sementara itu, pihak industri komponen otomotif pun mengharapkan pemerintah kembali meneruskan program bea masuk ditanggung pemerintah (BMDTP) untuk membantu dunia usaha yang saat ini kinerjanya belum maksimal.

Adapun pada 2020, pemerintah telah mengalokasikan anggaran senilai Rp583,2 miliar untuk fasilitas BMDTP kepada 33 sektor industri terdampak pandemi Covid-19.

Ketua Umum Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Hamdhani Dzulkarnaen Salim mengatakan industri otomotif dan komponennya sudah mengarah ke jalur positif. Namun, masih sulit untuk kembali ke posisi prapandemi.

“Utilisasi secara umum belum kembali ke level 2019 walaupun harapannya akan terus membaik. Tantangannya adalah harga material yang cenderung naik dan adanya masalah logistik baik vessel, container, dan lainnya sehingga cost material yang sebagian masih impor menjadi naik,” katanya kepada Bisnis.

GIAMM mencatat saat ini 90% bahan baku industri komponen masih bergantung pada produk impor. Selain itu, skala keekonomian industri bahan baku komponen otomotif belum terpenuhi oleh permintaan dalam negeri.

Sumber: Harian Bisnis Indonesia

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter