multifinance

Permintaan Melesat, Multifinance Bergairah

Bisnis, JAKARTA — Industri pembiayaan atau multifinance mulai merasakan dampak positif atas kebijakan subsidi pajak penjualan atas barang mewah atau PPnBM di beberapa jenis mobil baru.

Seperti diketahui, pemerintah memberikan subsidi PPnBM untuk mobil baru jenis sedan dan 4×2, dengan mesin di bawah 1.500 cc, serta memiliki konten lokal hingga 70%.

Kebijakan itu telah berlaku per 1 Maret 2021 dan direncanakan memiliki tiga tahapan insentif per tiga bulanan. Awalnya besaran pajak sebesar 100% ditanggung pemerintah, kemudian berkurang hingga 50%, dan tahap terakhir tinggal 25%.

Direktur Utama PT BCA Finance Roni Haslim mengatakan bahwa periode Maret 2021 menjadi angin segar dari sisi mulai naiknya permintaan pembiayaan.

“Pertengahan Maret ini sudah ada kenaikan sekitar 20% lebih tinggi dari bulan lalu. New booking kami pada Februari Rp1,35 triliun, turun dari Januari di Rp1,64 triliun,” ujar nya kepada Bisnis, Minggu (14/3).

Menurut Roni, momentum subsidi mobil baru bisa jadi pintu masuk untuk menggairahkan lagi penyaluran pembiayaan baru BCAF di sektor ini yang mencapai 70% dari portofolio, sisanya mobil bekas. Namun demikian, Perusahaan pem biayaan anak usaha PT Bank Central Asia Tbk.

masih mematok target penyaluran tahunan perusahaan di bawah capaian sebelum pandemi, yakni Rp30 triliun di sepanjang 2021.“Saya kira masih perlu waktu untuk bisa kembali ke angka [penyaluran bulanan] sebelum pandemi, tapi arahnya sudah ke sana dalam waktu dekat,” tambahnya.

BCA Finance sebelumnya menutup periode 2019 dengan capaian penyaluran pembiayaan baru Rp33,2 triliun atau berada di kisaran Rp2 triliun per bulannya.

Pandemi Covid-19 sempat memukul kinerja BCA Finance mencapai titik penyaluran bulanan terendah di Rp433 miliar pada Juli 2020, sehingga total penyaluran pembiayaan sepanjang 2020 anjlok, hanya di Rp15,78 triliun.

Hal senada diungkap Direktur Sales dan Distribusi PT Mandiri Tunas Finance (MTF) Harjanto Tjito hardjojo.

Dia menyebut optimisme kebangkitan penyaluran memang ada, kendati masih jauh dibandingkan dengan periode normal.“Pipeline MTF di tanggal yang sama di Februari 2021 sebesar Rp1,1 triliun, sementara Maret 2021 ini Rp1,27 triliun.

Masih jauh dari masa sebelum pandemi. Perbandingan masa normal MTF sebelum pandemi itu per bulan Rp2,4 triliun, di Februari kemarin Rp1,4 triliun. Jadi kita lihat sampai akhir Maret ini,” jelasnya.

Sekadar informasi, anak usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. bersama emiten perdagangan otomotif PT Tunas Ridean Tbk. ini mengincar pembiayaan baru di semua lini usahanya mencapai sekitar Rp20 triliun pada 2021, atau naik sekitar 20% dari realisasi 2020 di angka Rp16,7 triliun.

Dengan komposisi penyaluran utama masih ditopang seluruh segmen kendaraan roda empat baru (80%), sisanya pembiayaan multiguna atau dana tunai (10%), dan pembiayaan alat-alat berat untuk badan usaha (10%).

Namun demikian, Harjanto berharap optimisme yang timbul akibat subsidi ini mampu mendongkrak kinerja melebihi target awal, bahkan mendekati realisasi pembiayaan MTF sepanjang 2019 atau sebelum pandemi, senilai Rp28,8 triliun.

“Aplikasi permintaan pembiayaan kendaraan baru meningkat 15% dari bulan lalu dan prediksi saya akan terus meningkat walaupun realisasi masih belum terlihat.

Tapi kita optimis karena dapat update dari rekan-rekan dealer, surat pesanan kendaraan [SPK] meningkat 150% sampai 170% dari bulan lalu,” katanya.

Dalam kesempatan sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menjelaskan bahwa angin segar dari beragam relaksasi pemerintah dan otoritas yang mulai berlaku pada Maret 2021, bisa menjadi momentum peningkatan pembiayaan kendaraan bermotor.

Namun demikian, Suwandi menekankan bahwa beragam relaksasi ini tak akan berpengaruh banyak apabila penanganan pandemi dan daya beli masyarakat masih stagnan.

Sejauh ini, APPI masih mematok angka pertumbuhan yang moderat pada tahun ini terkait dengan pembiayaan.

“Kita lihat lagi nanti berdasarkan tren pembiayaan pada kuartal II/2021. Banyak relaksasi di beberapa sektor, kami yakin tentu demand pembiayaan ada pertumbuhan.

Tapi kalau daya beli masyarakat masih rendah, belum tentu deal, belum tentu juga perusahaan [pembiayaan] berani menyalurkan.”

Sumber: Harian Bisnis Indonesia

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter