industri-otomotif

Relaksasi Otomotif Pacu Investasi

Bisnis, JAKARTA — Pabrikan otomotif menaruh harapan besar relaksasi pajak penjualan barang mewah ditanggung pemerintah mulai 1 Maret 2021 bisa mendongkrak konsumsi masyarakat sehingga indeks manufaktur bisa terkerek pada Februari 2021.

Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azzam mengatakan relaksasi pajak penjualan barang mewah ditanggung pemerintah (PPnBM-DTP) mampu meningkatkan kinerja produksi pabrikan otomotif pada bulan ini.

Alasannya, IHS Markit melaporkan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia periode Februari sebesar 50,9, atau lebih rendah dari periode Januari senilai 52,2.

Menurut Bob, penurunan PMI pada Februari 2021 merupakan wujud ketidakpercayaan yang disebabkan oleh peningkatan kasus Covid-19.

“Mudah-mudahan, dengan tren Covid yang menurun dapat meningkatkan kepercayaan,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (1/3).

Dalam laporan PMI itu, jumlah kasus Covid-19 yang meningkat menunjukkan bahwa pandemi terus mengganggu operasional manufaktur. Namun, dia menyatakan kondisi itu relatif tangguh karena hanya mengalami perlambatan, bukan kontraksi.

Bob berharap perlambatan indeks manufaktur pada Februari tidak berlanjut ke bulan-bulan berikutnya, seiring dengan langkah agresif pemerintah yang menambah stimulus salah satunya relaksasi PPnBM.

Secara umum, dia menyatakan stimulus tersebut dapat segera mengakselerasi pemulihan pasar otomotif domestik ke level di atas 70% dibandingkan dengan sebelum pandemi Covid-19. “Karena break even point [BEP] industri rata-rata di 70%.

Artinya, selama di bawah 70% akan ada tekanan untuk efisiensi,” katanya. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), produksi mobil di Indonesia pada Januari 2021 masih mengalami tekanan, dengan catatan terkontraksi sebesar 48,8% secara tahunan (yoy).

Penurunan ini menjadi awal kurang baik bagi industri otomotif, yang sepanjang tahun lalu hanya memproduksi 690.150 unit atau berkurang 599.697 unit (-46,5%) dibandingkan dengan pencapaian 2019, yakni 1.289.847 unit.

Bob berharap insentif PPnBM mampu mendongkrak industri otomotif, sejalan dengan penurunan angka Covid-19 dan dimulainya vaksin. “Yang penting sektor keuangan juga bisa support untuk kebijakan stimulus pemerintah,” tutur Bob.

Donny Saputra, 4W Marketing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), mengatakan bahwa kehadiran stimulus dalam bentuk relaksasi PPnBM, memberikan harapan besar pada industri otomotif supaya mampu meningkatkan volume penjualan dan produksi tahun ini.

“Kami optimistis insentif yang diberikan bisa mendongkrak performa industri otomotif dan menjadi salah satu katalis pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pemerintah akan mengevaluasi penerapan kebijakan insentif PPnBM setiap 3 bulan.

Penerapan insentif itu akan dibagi dalam tiga tahap, yaitu pengurangan 100% untuk 3 bulan pertama, pengurangan 50% untuk 3 bulan tahap kedua, dan pengurangan 25% untuk 3 bulan tahap ketiga.

“Implementasinya akan dilakukan evaluasi setiap 3 bulan,” katanya. Agus optimistis, stimulus tersebut akan menurunkan harga kendaraan bermotor produksi dalam negeri sehingga lebih terjangkau di masyarakat.

Pada akhirnya hal itu dapat meningkatkan penjualan, sehingga kinerja produksi akan terkerek naik. “Hal ini tentunya akan mampu memberikan dampak signifikan terhadap kinerja industri bahan baku dan komponen dalam negeri terutama industri kecil menengah,” katanya.

Industri otomotif merupakan salah satu sektor andalan yang memiliki kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional.

Saat ini, terdapat 22 pabrikan dengan didukung sebanyak 1.500 industri komponen (tier 1, 2, dan 3) dan lebih dari 1,5 juta orang yang bekerja di sepanjang rantai nilai industri tersebut.

Bahkan, sektor otomotif mampu menyumbang sebesar 10% terhadap PDB sektor industri, atau 25% terhadap PDB sektor industri jika memasukkan ekosistem kendaraan bermotor.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menyatakan bahwa relaksasi PPnBM diproyeksi mampu meningkatkan produksi hingga 81.752 unit.

Sebagai catatan, tahun lalu, produksi kendaraan penumpang mencapai 551.400 unit.Dengan proyeksi tersebut, produksi otomotif Tanah Air akan naik 14,8% atau menjadi 633.152 unit.

Apabila ditambah dengan kendaraan niaga, dengan asumsi volume produksinya stagnan dibandingkan dengan tahun lalu, maka total produksi roda empat atau lebih akan menjadi 771.902 unit.

Sepanjang 2021, Gaikindo menargetkan penjualan industri otomotif bisa mencapai 750.000 unit. Target itu belum menghitung adanya relaksasi PPnBM.

PERLU DIDORONG

Dalam perkembangan lain, pemerintah menilai kontraksi terdalam ekonomi Indonesia sudah terlewati, yaitu pada kuartal II/2020. Meski sepanjang 2020 produk domestik bruto minus 2,07%, arah perbaikan sudah terlihat.

“Kita juga melihat pertumbuhan ekonomi kita yang mulai pulih masih perlu didorong terutama pada triwulan I/2021 ini,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Senin (1/3).

Sri menjelaskan bahwa APBN bekerja sangat keras demi menjaga ekonomi yang tengah lesu dihantam Covid-19. Dalam 2 bulan saja, belanja yang dikeluarkan sebesar Rp266,7 triliun.

“Ini 9,7% dari total alokasi yang akan kita belanja atau tumbuh 11,7% [dibandingkan tahun lalu]. Jadi dalam hal ini APBN kita bekerja luar biasa dini,” jelasnya.

Belanja pemerintah pusat, paparnya, telah terealisasi Rp169,7 triliun atau tumbuh 10,9%. Untuk transfer ke daerah dan dana desa Rp97 triliun atau naik 112,2%.

“Ini tujuannya adalah untuk bisa mendorong terus dari sisi belanja pemerintah. Di sisi lain pemerintah menggunakan instrumen APBN untuk mendorong konsumsi masyarakat dan memulihkan dunia usaha,” ucapnya.

Oleh karena itu, anggaran pemulihan ekonomi nasional (PEN) 2021 terus meningkat dan hasil realokasi terbaru sebesar Rp699,43 triliun. Angka ini naik 21% dari realisasi sementara tahun 2020 sebesar Rp579,78 triliun.

Inflasi diprediksi akan secara bertahap meningkat sepanjang tahun 2021. Hal ini akan terjadi menyusul pemulihan permintaan secara global dan domestik, serta bantuan stimulus ekonomi di masa pandemi Covid-19 yang disalurkan oleh pemerintah.

Kepala Ekonom Bank Danamon Wisnu Wardhana memprediksikan inflasi secara bertahap akan meningkat sebesar 2,84% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada tahun ini.

Dia menilai bahwa tingkat infl asi dipengaruhi oleh pemulihan ekonomi nasional serta distribusi vaksin Covid-19. “Inflasi juga akan lebih terakselerasi di tahun 2021, dengan asumsi distribusi vaksin sesuai jalur dengan rencana yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan,” jelas Wisnu.

Sebagaimana diketahui, Indonesia sudah memasuki vaksinasi massal tahap kedua dengan target lansia dan pekerja di sektor publik. Contohnya, TNI-Polri, pedagang, jurnalis, dan tenaga pendidik.

Adapun, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Februari 2021 adalah sebesar 0,10% dibandingkan dengan bulan sebelumnya (month-to-month/mtm).

Secara tahunan, inflasi pada Februari 2021 tercatat sebesar 1,38% yoy dan secara tahun kalender sebesar 0,36%(year-to-date/ytd).

Sumber: Harian Bisnis Indonesia

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter