industri-otomotif

Pajak ‘Pelumas’, Astra, Salim, Hingga Turi

Sejumlah emiten produsen otomotif, diler, komponen, hingga pedagang kendaraan bekas turut mengalap berkah dari relaksasi PPnBM 0%.

Kabar relaksasi pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) 0% telah bergulir sejak kuartal III/2020. Usulan itu disampaikan oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kertasasmita.

Berdasarkan catatan Bisnis, Agus disebut telah mengusulkan relaksasi pajak penjualan (PPn) dan PPnBM kepada Menteri Keuangan. Selain itu, pihaknya telah mengusulkan kepada Menteri Dalam Negeri agar merelaksasi bea balik nama (BBN) dan pajak kendaraan bermotor serta pajak progresif.

Niat pemerintah itu digadang-gadang menjadi pelumas bagi penjualan emiten sektor otomotif yang seret akibat pandemi Covid-19. Apalagi, data penjualan mobil domestik menciut dari 1,03 juta unit pada 2019 menjadi 532.027 unit per 2020. Angin segar berembus jelang perayaan Imlek.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dalam keterangan resminya, mengatakan relaksasi PPnBM akan diberikan kepada mobil penumpang 4×2, termasuk sedan dengan kubikasi mesin kurang dari 1.500cc yang diproduksi di dalam negeri. Dalam penerapannya, PPnBM akan diberlakukan 0% pada Maret—Mei 2021.

Selanjutnya, diikuti insentif PPnBM sebesar 50% pada Juni—Agustus dan 25% periode September—November. Head of Investor Relations PT Astra International Tbk. (ASII) Tira Ardianti mengatakan masih dilakukan kajian secara internal.

Tapi, pihaknya menilai kebijakan itu baik mendorong permintaan, khususnya insentif bagi yang ingin membeli kendaraan. “Iya, bisa berdampak positif dari sisi permintaan.

Tinggal dicek kesiapan suplainya jika permintaan meningkat karena saat ini produksi tidak bisa berjalan dengan utilisasi penuh akibat dampak pandemi,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (15/2).

Tira mengatakan pembahasan perseroan belum sampai kepada rencana menaikkan target penjualan 2021. Menurutnya, penentuan akan dilakukan apabila kajian sudah matang dan aturan efektif berjalan.

ASII membukukan penjualan kendaraan roda empat 270.076 unit pada 2020, turun 49,65% year-on-year (yoy) dari 536.402 unit pada 2019. Secara terpisah, Corporate Secretary PT Tunas Ridean Tbk. Dewi Yunita mengakui kebijakan PPnBM ini dapat membantu meningkatkan volume penjualan.

Namun, besaran kenaikan belum dapat disampaikan karena masih menunggu relaksasi berlaku. Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2020, emiten berkode saham TURI itu membukukan pendapatan Rp6,18 triliun.

Realisasi itu turun 38,37% dari Rp10,03 triliun per 30 September 2019. Komponen pendapatan yang turun signifikan adalah kendaraan bermotor.

Pemasukan dari lini itu menyusut 41,53% dari Rp9,57 triliun pada kuartal III/2019 menjadi Rp5,6 triliun per kuartal III/2020. Investor Relations Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Yosef juga menilai kebijakan itu dapat mendorong daya beli masyarakat yang akhirnya berpengaruh kepada industri otomotif.

“Namun, kami masih menunggu aturan teknis pelaksanaannya yang diharapkan tidak terlalu lama sehingga tidak membuat pembeli melakukan penundaan pembelian lebih lama,” jelasnya.

Perseroan belum dapat memperkirakan besaran dampak dari kebijakan tersebut terhadap penjualan. Tapi, pihaknya memprediksi masih belum akan pulih ke kondisi normal awal 2020.

“Setidaknya hingga kuartal I/2021 mengingat pandemi Covid-19 baru mulai terdeteksi pada Maret 2020, tetapi tentunya efek kebijakan akan makin terasa pada kuartal II/2021,” jelasnya.

Di lain pihak, Direktur Keuangan PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) Hindra Tanujaya mengungkapkan selisih antara mobil baru dan mobil bekas akan tetap cukup besar meski ada relaksasi.

0“Jadi, tetaplah mobil bekas akan berjalan walaupun mungkin di awal pelaksanaan pembeli mobkas [mobil bekas] akan sedikit menunda dulu beli,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Senin (15/2).

Sebagai catatan, ASSA merupakan bagian dari Triputra Group yang dimiliki konglomerat T.P. Rachmat.

KATALIS POSITIF

Senior Vice President Research PT Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial menilai kebijakan PPnBM 0% yang akan diterapkan mulai Maret 2021 sangat menolong industri otomotif.

Pasalnya, dapat menjadi stimulus dari sisi permintaan. “Memang consumer purchasing power kita sangat lemah,” jelasnya. Dengan kebijakan itu, lanjut Janson, setidaknya konsumen yang menahan untuk konsumsi atau cenderung menabung akan membeli kendaraan dengan harga diskon.

Kebijakan itu akan berdampak bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke atas tetapi tidak untuk menengah ke bawah yang masih menghadapi ketidakpastian masa depan. “[PPnBM 0%] good for ASII, IMJS, IMAS, dan AUTO hingga SMSM,” jelasnya.

Berdasarkan data Bloomberg, emiten otomotif langsung tancap gas pada sesi perdagangan Senin (15/2). ASII menguat 1,7% ke level Rp5.950. Entitas Grup Astra di bidang komponen otomotif, PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO), juga naik 1,92% ke level Rp1.060.

Sementara itu, PT Indomobil Sukses Internasional Tbk. (IMAS) ditutup di level Rp1.365 atau melonjak 22,42% dari perdagangan hari sebelumnya. Secara year-to-date (ytd), emiten otomotif afiliasi Grup Salim itu menguat 39,32%.

Sumber: Harian Bisnis Indonesia

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter