pembiayaan

Multifinance Waspadai Over Financing

Bisnis, JAKARTA — Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia tetap mewaspadai adanya risiko kredit bermasalah sejalan dengan rencana penerapan relaksasi pajak penjualan atas barang mewah atau PPnBM bagi sektor otomotif.

Kendati perusahaan pembiayaan mendapat angin segar dari kebijakan yang berpotensi mendorong performa usaha industri multifinance itu, hanya saja perusahaan pembiayaan sebagian di antaranya sudah menerapkan kebijakan uang muka atau down payment murah yang terjangkau konsumen.

“Harapannya tentu ada kenaikan penjualan, tapi kami masih belum bisa jamin berapa, harus lihat tren bulanan pada Maret nanti. Karena bulan ini pasti banyak yang menunda pembelian, dan perlu kita lihat juga daya beli masyarakat bagaimana,” ujar Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno kepada Bisnis, Minggu (14/2).

Suwandi menjelaskan potensi peningkatan penjualan otomotif jelas akan berpengaruh bagi penyaluran pembiayaan baru industri, karena dari total penjualan unit kendaraan roda dua maupun roda empat setiap tahunnya, sekitar 70% tersalurkan melalui leasing.

Dia mengingatkan bahwa masing-masing perusahaan pembiayaan yang memiliki portofolio kendaraan segmen terkait, harus siap menangani dampak kebijakan ini.

Dampak tersebut antara lain potensi peningkatan kredit bermasalah bagi kendaraan di segmen ini yang masih dalam proses kredit, terutama bagi leasing yang sebelumnya menerapkan uang muka rendah, karena secara tidak langsung telah terjadi over financing.

Selain itu, leasing perlu bersiap melakukan recovery atas potensi kerugian akibat jatuhnya harga jual kendaraan di segmen ini yang telah menjadi barang tarikan atau tengah dalam proses lelang.

Oleh sebab itu, di tengah kondisi yang masih memerlukan mitigasi risiko tinggi, Suwandi memperki- rakan akan banyak multifinance yang tetap mempertahankan skema lama.

“Kalau perkiraan saya benar, maka penurunan harga kendaraan di segmen ini nilainya sama seperti DP yang biasa kami patok. Tapi bukan berarti kita bisa berikan DP nol, karena DP ini cerminan keseriusan calon debitur.

Lagi pula, walaupun [DP di segmen subsidi] persentasenya sama, nilainya kan lebih rendah dari sebelumnya,” katanya. Terlebih, Suwandi menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 masih menyisakan krisis bagi industri pembiayaan, seperti minimnya arus kas akibat rendahnya permintaan dan restrukturisasi, potensi peningkatan kredit macet yang mengharuskan naiknya pencadangan, serta sulitnya meraih sumber pendanaan.

“Jadi kemampuan memberikan DP rendah itu kembali kepada masing-masing perusahaan, berkaitan dengan kekuatan sumber dana mereka. Misalnya, perbankan itu biasanya punya syarat penyaluran [lewat leasing ], dengan mematok minimal DP tertentu demi pengelolaan risiko mereka.

Jadi kalau leasing dipaksa [DP nol] pun, belum tentu semua punya kemampuan,” katanya. Sementara itu, perbankan mengincar pertumbuhan penyaluran kredit dari segmen kredit konsumsi pada tahun ini.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja menuturkan penyaluran kredit konsumsi pada awal tahun masih tumbuh positif. Menurutnya, penyaluran kredit kendaraan bermotor (KKB) dan kredit pemilikan rumah (KPR) cukup bagus hingga Maret 2020.

Namun, penyaluran kredit anjlok mulai April 2020. Jahja menyebut kredit baru di KKB yang rata-rata Rp2,5 triliun per bulan pada kondisi normal turun hanya menjadi Rp90 miliar.

Jahja mengatakan kredit kendaraan bermotor turun paling dalam dan tidak bisa pulih secara cepat. “Penyebab utama karena Covid ini menyebabkan mobilitas masyarakat berkurang.

Restoran, daerah wisata, pasar dan segala aktivitas ekonomi tutup, distribusi barang enggak bisa,” imbuhnya. Dia optimis kredit di tahun ini akan lebih baik dan tumbuh positif.

Meski tidak memasang target khusus Direktur Consumer Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk. Lani Darmawan mengatakan kredit konsumsi masih tumbuh positif di tengah pandemi. Untuk KPR tumbuh 6%, sedangkan kredit kendaraan bermotor tumbuh 12%.

Lani menyampaikan pertumbuhan positif ini sebagian karena suku bunga pinjaman sudah cukup rendah. Dia memperkirakan kredit konsumsi masih dapat tumbuh positif pada tahun ini. Pada tahun ini, CIMB Niaga menargetkan kredit kendaraan bermotor tumbuh minimal 10% dan KPR tumbuh 6%-8%.

Sumber: Harian Bisnis Indonesia

Share this post

Share on facebook
Share on google
Share on twitter