Penerimaan Pajak dan Bea Cukai Diprediksi Tak Sesuai Target, Senin, 6 November 2017

  • Harian Kontan
JAKARTA. Hingga Oktober 2017, realisasi penerimaan pajak dan bea cukai masing-masing sebesar 68,7% dan 67,1% dari target. Jika data realisasi penerimaan bea cukai hingga akhir Oktober 2017, data realisasi penerimaan pajak baru sampai pertengahan Oktober 2017.

Ini berarti dengan target penerimaan cukai dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 sebesar Rp 189,1 triliun, maka realisasi sampai akhir Oktober 2017 sebesar Rp 126,88 triliun. Lalu penerimaan pajak sampai pertengahan Oktober 2017 baru sebesar Rp 881,81 triliun.

Dengan realisasi sebesar itu, Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) menghitung, penerimaan pajak sampai akhir tahun 2017 diperkirakan hanya akan sebesar Rp 1.117 triliun, atau terjadi shortfall sekitar Rp 106 triliun. Sementara penerimaan bea dan cukai sampai akhir tahun diperkirakan hanya Rp 147,7 triliun atau mengalami shortfall sekitar Rp 42 triliun. Direktur Eksekutif CITA Yustinus Prastowo mengatakan, penerimaan pajak pada tahun ini hanya terdorong pertumbuhan ekonomi secara alamiah. "Meski ada penurunan daya beli, setidaknya ada peralihan konsumsi barang ke leisure. Pertumbuhan ekonomi secara alamiah membantu penerimaan pajak tumbuh," katanya kepada KONTAN, Minggu (5/11).

Kondisi itu menurut Yustinus, membuat realisasi pajak tetap tumbuh. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tumbuh positif karena disebabkan meningkatnya kepatuhan pasca amnesti pajak dan penerapan faktur elektronik (e-faktur). Realisasi PPN Oktober 2017 tumbuh 13,9%, naik tipis dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh 13,7%.

PPN dalam negeri pada September tumbuh 12,14%, sedang pada Oktober 2017 tumbuh 12,29%. Sedangkan PPN impor dari yang sebelumnya tumbuh 19,6%, pada Oktober 2017 tumbuh 20,11%. Pertumbuhan juga terlihat pada total seluruh komponen Pajak Penghasilan (PPh), yakni PPh 21, 23, 25, 29 baik Orang Pribadi (OP) maupun Badan yang meningkat dibanding September 2017.

PPh 21 dan 22 masing-masing tumbuh 4,6% dan 38,6%. PPh 22 impor dan PPh 23 juga masing-masing tumbuh 15%. Sementara, PPh pasal 25 dan 29 OP naik 47,2%. Adapun PPh badan 25 dan 29 sampai Oktober naik 18,8%. Namun menurut Yustinus, penerimaan pajak secara keseluruhan hanya tumbuh tipis dari tahun sebelumnya, yaitu Rp 44 triliun.

Direktur Potensi, Kepatuhan, dan Penerimaan Pajak Ditjen Pajak Yon Arsal mengatakan, sisa waktu tahun ini merupakan tantangan besar bagi Ditjen Pajak.Namun demikian, tantangan itu didukung oleh kondisi pertumbuhan setoran pajak berbagai sektor yang relatif stabil. Selain itu, penerimaan per jenis pajak juga tercatat tumbuh positif meski ada jenis pajak yang terpengaruh selisih waktu, seperti PBB Migas.