Hari Pajak 2020

Emiten Otomotif Menanti Pelumas - Kamis, 17 Sep 2020

  • Harian Bisnis Indonesia

Penjualan emiten otomotif yang seret dalam 8 bulan terakhir berpotensi lebih licin pada kuartal IV/2020 apabila usulan relaksasi pajak pembelian mobil baru mendapat lampu hijau dari otoritas fiskal.

Upaya mendorong pertumbuhan sektor otomotif dilakukan berbagai pihak. Salah satunya oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita yang telah mengusulkan relaksasi pajak pembelian mobil baru.

Agus mengatakan telah mengusulkan relaksasi pajak penjualan (PPn) dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) kepada Menteri Keuangan. Selain itu, pihaknya menyatakan telah mengusulkan kepada Menteri Dalam Negeri agar merelaksasi bea balik nama (BBN) dan pajak kendaraan bermotor serta pajak progresif.

Usulan itu muncul untuk menyikapi lesunya penjualan otomotif di tengah pandemi Covid-19. Enam emiten yang memiliki lini bisnis penjualan otomotif, misalnya, mengalami penurunan nilai penjualan 22%—38% year-on-year pada semester I/2020.

Corporate Secretary PT Tunas Ridean Tbk. Dewi Yunita merespons secara positif usulan relaksasi pajak mobil baru. Kebijakan itu diharapkan dapat meningkatkan penjualan.

“Untuk tren [penjualan] kuartal III/2020 sudah memperlihatkan peningkatan dibandingkan dengan pada awal pandemi,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (16/9).

Emiten berkode saham TURI itu melaporkan pendapatan turun 34% yoy menjadi Rp4,45 triliun pada semester I/2020. Sejalan dengan kondisi itu, laba bersih yang dibukukan turun 65% secara tahunan menjadi Rp107 miliar per 30 Juni 2020.

Direktur Utama Tunas Ridean Rico Setiawan mengatakan penurunan laba bersih pada semester I/2020 disebabkan oleh melemahnya kontribusi dari bisnis otomotif, bisnis pembiayaan, dan bisnis sewa. Kondisi itu menurutnya akibat kondisi perdagangan yang tidak menentu terkait dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

TURI melaporkan pasar mobil nasional turun 46% menjadi 260.933 unit pada semester I/2020. Dalam periode yang sama, penjualan mobil baru grup turun 39% menjadi 14.234 unit.

Di lain pihak, Investor Relations PT Industri dan Perdagangan Bintraco Dharma Tbk. Yosef menyatakan menyambut baik dan mendukung usulan relaksasi pajak kendaraan baru yang diajukan oleh Menteri Perindustrian. Apalagi, kebijakan itu dikeluarkan di tengah kondisi penyebaran pandemi Covid-19.

Yosef mengatakan sektor otomotif termasuk yang berdampak langsung dengan adanya pandemi Covid-19 pada 2020. Dengan demikian, setiap kebijakan pemerintah yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat tentu menjadi hal positif dan membantu memperbaiki kinerja industri otomotif secara nasional.

“Perseroan meyakini kebijakan relaksasi pajak ini jika diterapkan dapat menstimulus daya beli yang akhirnya meningkatkan permintaan di mana harga beli kendaraan baru menjadi lebih terjangkau bagi pelanggan,” jelasnya.

Dia menilai kebijakan itu dapat menjaga tren positif penjualan mobil yang mulai meningkat sejak PSBB dilonggarkan pada Juni 2020. Emiten berkode saham CARS itu optimistis apabila relaksasi pajak mobil baru segera diterapkan akan menjaga momentum perbaikan permintaan hingga akhir 2020.

CARS melaporkan pendapatan Rp2,24 triliun pada semester I/2020. Realisasi itu turun 38,98% dari Rp3,68 triliun per 30 Juni 2019. Kontribusi pendapatan dari segmen otomotif tercatat senilai Rp1,69 triliun pada 30 Juni 2020. Posisi itu turun 40,28% dari Rp2,83 triliun periode yang sama tahun lalu.

TUNGGU KEJELASAN

Sementara itu, Head of IR PT Astra International Tbk. Tira Ardianti mengatakan belum dapat berkomentar lebih lanjut mengenai relaksasi pajak mobil baru yang diusulkan oleh pemerintah. Produsen otomotif itu menurutnya masih menunggu kejelasan mengenai kebijakan tersebut. “Kami tunggu saja perkembangannya ke depan,” ujarnya kepada Bisnis, Selasa (15/9).

Berdasarkan laporan per Agustus 2020, penjualan mobil di bawah Grup Astra mencapai 16.773 unit pada Agustus 2020. Realisasi itu naik 65,41% dibandingkan dengan 10.140 unit bulan sebelumnya. Secara kumulatif, penjualan emiten berkode saham ASII itu sebanyak 166.418 unit pada Januari 2020—Agustus 2020. Sementara itu, penjualan pasar domestik pada periode yang sama sebesar 323.492 unit.

Head of Corporate Communications Astra Boy Kelana Soebroto mengatakan penjualan mobil Astra dan nasional perlahan mengalami kenaikan pada Juni 2020—Agustus 2020. Emiten berkode saham ASII itu berharap pemulihan dapat terus berlanjut sehingga berkontribusi kepada penjualan mobil nasional.

Senior Vice President Research PT Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengatakan relaksasi pajak seharusnya dapat mendongkrak penjualan khususnya mobil kecil. Apalagi, selama periode PSBB, masyarakat lebih memilih memakai kendaraan pribadi.

“Setidak-tidaknya penjualan otomotif bisa improve secara month on month walau secara tahunan turun drastis 40% hingga 50%. Harusnya selama PSBB, dengan preferensi WFH [work from home] lebih banyak dan masyarakat menghindari kerumunan publik, sektor otomotif mendapatkan boosting positif,” paparnya.

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, Tim Analis J.P. Morgan memprediksi sektor otomotif dan sektor ritel berada di bawah tekanan selama pemberlakuan kembali PSBB di wilayah DKI Jakarta. Rekomendasi untuk ASII diturunkan menjadi netral dengan target harga Rp4.700.