Hari Pajak 2020

Dividen Bebas Pajak, Bursa Bergairah - Kamis, 08 Oktober 2020

  • Harian Bisnis Indonesia

Bisnis, JAKARTA — Pembebasan pajak penghasilan terhadap dividen, baik dari dalam maupun luar negeri, yang tertuang dalam Undang-Undang Cipta Kerja diyakini akan membawa angin segar bagi para pelaku pasar modal dan iklim investasi di Tanah Air.

Secara ringkas, Bagian Perpajakan dalam Undang Undang (UU) Cipta Kerja mengatur tentang jenis-jenis objek pajak yang dikecualikan dari pajak penghasilan (PPh) 15%. Salah satunya, dividen. 

Dalam beleid tersebut, dividen dari dalam negeri yang diperoleh wajib pajak orang pribadi dan atau badan dalam negeri dikecualikan dari objek PPh apabila dividen tersebut diinvestasikan di Indonesia dalam jangka waktu tertentu. 

Selanjutnya, pengecualian juga diberikan untuk dividen yang diperoleh dari perusahaan di luar negeri dan diinvestasikan kembali di Indonesia paling sedikit 30%. 

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi menyambut positif insentif pajak dividen yang diberikan dalam UU Cipta Kerja. Bursa meyakini kebijakan itu telah memiliki kalkulasi dan pertimbangan. 

“Stimulus yang ada baik dan diyakini dapat mendorong pendalaman pasar modal dalam negeri,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (7/10). Secara terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Samsul Hidayat mengatakan kebijakan pembebasan pajak dividen akan mendorong investor untuk reinvestasi pendapatan dividen yang diperoleh dari emiten. 

“Memang yang didorong pemerintah bahwa kebijakan pajak ini diharapkan akan memacu animo investor untuk menginvestasikan kembali pendapatannya,” ujarnya. 

Di lain pihak, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) Octavianus Budiyanto mengharapkan stimulus dapat menjadi katalis positif untuk menarik investasi dari dalam dan luar negeri. Tentunya, ada beberapa ketentuan yang harus diikuti oleh investor. Octavianus mengatakan keberadaan omnibus law akan mendorong penghiliran. 

Menurutnya, beleid itu akan menciptakan nilai tambah penyerapan lapangan kerja. “Ada nilai tambah yang dihasilkan oleh investasi karena adanya insentif pajak dividen tadi,” paparnya. 

PENAMBAHAN INVESTOR 

Direktur Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Syafruddin menyambut baik stimulus pajak dividen dalam UU Cipta Kerja. “Kami berharap adanya stimulus ini akan jadi salah satu faktor yang dapat menarik lebih besar lagi minat investasi di pasar modal,” jelasnya. 

Berdasarkan data KSEI hingga Juli 2020, jumlah investor di pasar modal sudah menembus 3 juta. Lebih lanjut, pertumbuhan investor ritel di pasar modal juga meningkat cukup pesat di tengah pandemi Covid-19. 

Menurutnya, mayoritas atau 65% investor baru di pasar modal merupakan milenial yang berusia kurang dari 30 tahun. Syafruddin mengungkapkan komposisi kepemilikan investor ritel di saham juga meningkat pesat. 

Dalam kondisi pasar saat ini, peran sektor itu terlihat nyata mampu meredam keluarnya sementara investor institusi terutama asing dari pasar modal. Dengan demikian, lanjutnya, pilihan instrumen investasi tidak lagi terbatas pada instrumen surat berharga negara (SBN) ritel yang pajak bunganya lebih rendah dari deposito. 

Instrumen saham juga bisa menjadi pilihan karena pajak atas dividennya bisa lebih kecil. “Dalam jangka menengah, sementara para investor institusi belum mulai masuk lagi, investor ritel bisa keep dulu portofolionya dengan potensi pendapatan dividen dan stimulus pajaknya yang menjadi lebih kecil,” imbuhnya. 

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Edwin Sebayang menyebut bocoran mengenai penghapusan pajak dividen sudah lama didengar oleh pelaku pasar. 

Kebijakan itu, menurutnya, juga akan memberikan dampak bagi emiten. “Tentunya akan membawa dampak positif kepada emiten atau saham yang rutin membagikan dividen,” jelasnya. Edwin juga melihat relaksasi pajak berpeluang mendorong pertumbuhan investor, khususnya investor dengan tipe high net worth.